
Ada suatu kejutan yang sangat menyenangkan ketika pada akhirnya aku tahu bahwa sebenarnya kesepian itu semu adanya, Karena walau aku seorang diri saja tak selamanya menuju pada kesepian hidup. Ada saja kata-kata yang menandakan aku telah kehilangan keyakinan pada sesuatu yang telah membantuku melewati hari-hari sepiku.
Aku mencoba untuk terus bicara pada Tuhan. “Aku membutuhkanMu. Aku telah mencoba semua yang bisa kulakukan tapi tidak ada satupun yang berhasil. Aku merasa sama sekali tak berdaya karena tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Umurku dua puluhan lebih, sehat dan punya pekerjaan. Barangkali Engkau mengetahui semua ini. Tapi aku sangat kesepian.
Hampir-hampir aku tidak mempunyai seorangpun untuk berbagi sendiriku, tak ada teman dan tak ada seorang lelaki istimewa yang kukasihi untuk dapat diajak bicara. Hidupku terasa kering dan sama sekali tak punya tempat tujuan. Aku hanya berhadapan dengan setumpuk kertas-kertas kerja sepanjang hari selama setahun lebih beberapa bulan ini, dan telah mempelajari bagaimana rasa sakit hati dimasa lalu, mengakhiri hubungan-hubungan lama, mengutarakan semua kebutuhanku, memahami dan menghadapi apa yang dikehendaki semuanya. Tetapi aku masih saja tetap sendirian.”
Sambil duduk diam, aku membiarkan keheningan ini terus menerus melandaku.
Berhari-hari, berbulan-bulan aku mengulangi kegiatan rutin ini. Aku terus menempuh kehidupanku sendiri, berhasil tertawa dan sedikit bersenang-senang. Aku menikmati diri sendiri, entah aku sedang makan diluar, shopping atau traveling. Aku juga berdoa.
Hari demi hari, ku coba untuk keep in pray, mengosongkan pikiran pada diriku dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali lagi dan lagi dan lagi.
Pada suatu pagi, saat aku terbangun dan mengetahui sesuatu telah berubah. Saat berangkat kerja, aku memandang sekeliling, sesuatu tentang cahaya matahari pagi, pohon-pohon dan rerumputan dipinggir jalan, kicauan burung, tiupan angin terasa begitu berbeda. Aku tidak tahu persis apa itu, tapi aku merasakannya.
Tak seberapa lama kemudian kutumpahkan semua isi hatiku pada Tuhan. “Aku tidak begitu yakin apa yang telah terjadi, tetapi aku merasa berbeda. Sesuatu telah kembali di dalam hati, aku tak merasa kesepian lagi. Tak ada diluar sana yang berubah, tetapi semuanya terasa begitu berbeda. Apakah Engkau mengetahui sesuatu mengenai hal ini?”.
Tiba-tiba aku diterpa ketololan pertanyaan tersebut, dan tertawa terbahak-bahak dan sekali lagi timbul keheningan. Tetapi bahkan keheningan itu terasa sangat berbeda. Keheningan itu tidak lagi menyampaikan suatu perasaan hampa dan kesepian. Sebaliknya keheningan itu memancarkan ketenangan dan kedamaian yang menakjubkan. Aku tahu pada saat itu bahwa aku telah menyadari diriku sendiri. Batinku tak terasa tertekan lagi. Aku menundukkan kepala, memejamkan mata, menarik nafas panjang, dan menghembuskannya kembali. “Thanks GOD,” bisikku.
Aku hampir tak mempunyai bayangan apa yang telah Tuhan lakukan tetapi aku merasakan kebahagiaan ini berasal dari Tuhan. Aku tak melakukan apa pun yang baru atau yang berbeda, jadi aku tau kebahagiaan ini bukan dariku. Siapa lagi kalau bukan dari Tuhan.
Aku tetap duduk dalam keheningan dan kesendirian. Merasa puas dan sangat bahagia. Kemudian aku bicara lagi pada Tuhan “Aku menyerah kepada ketidaktahuan. Aku menyerah padaMu karena Engkaulah yang berkuasa. Aku menyerah pada hidupku sebagai ungkapan kehendakMu dan bukan kehendakku dan aku berterima kasih kepadaMu atas perasaan ini, atas perubahan ini atau transformasi ini atau entah apakah ini.”
Dalam hari-hari berikutnya perasaan puasku tumbuh dan berkembang. Aku mulai memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda sama sekali. Aku menikmati hidup daripada mencari “kepingan ku yang hilang”. Lenyap sudah perasaan takut, dorongan mencekik untuk mencari “lelaki sempurna” selama sisa hidupku.
Pergeseran dalam sudut pandangku itu meluas ke bidang-bidang lain pula. Daripada berjalan sempoyongan menempuh kehidupan, lebih baik aku meluncur terbang. Kunikmati kesendirianku. Aku merasa senang sekali. Sepanjang aku mempertahankan hubungan dengan batinku, aku berkelimpahan kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, kepuasaan dan segalanya.
Tak ada apapun yang perlu diketahui. Andaikata kehendak Tuhan aku harus mengakhiri masa lajangku, maka aku akan menikah. Bila tidak, itu pun tidak apa-apa asalkan Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Aku tidak lagi menggenggam anggapan-anggapan yang telah kubayangkan bagaimana seharusnya hidupku. Setiap hari merupakan petualangan yang baru yang menakjubkan yang Tuhan berikan bagiku.
“ Sekali lagi Thanks GOD,” bisikku. Karena sudah menolongku melepaskan semua beban yang kupikul, semua yang mencegahku untuk melihat apa yang betul-betul ada dihati. Terima kasih karena menunjukkan diriMu sendiri padaku dalam diriku sendiri, dalam hembusan angin, dalam langit sore yang indah, dalam matahari dan hujan dan dalam banyak hal. Aku tak mungkin seperti ini tanpaMU. Terima kasih karena Kau telah menemaniku terus. Aku berjanji aku tidak akan melupakanMu,”
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dasyat dan ajaib ; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya Mazmur 139:14