Archive for May, 2009
Ada suatu perasaan hangat yang sangat menyenangkan ketika pada akhirnya aku menyadari bahwa sebenarnya kesepian itu semu adanya, Karena walau aku seorang diri saja tak selamanya menuju pada kesepian hidup. Ada saja kata-kata yang menandakan aku telah kehilangan keyakinan pada sesuatu yang telah membantuku melewati hari-hari terberat yang membuatku merasa hidup terasa kosong dan melelahkan.
Tiap hari tanpa putus harap aku mencoba untuk terus bicara pada Tuhan. “Bapa, aku sangat membutuhkanMu. Aku sudah mencoba apa saja yang bisa kulakukan tapi tidak ada satupun yang mendatangkan keberhasilan. Aku merasa sama sekali terpuruk tak berdaya karena tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Aku masih muda, umurku dua puluhan lebih, sehat dan punya pekerjaan dan Bapa, Engkau mengetahui semua ini. Tapi sungguh aku merasa sangat kesepian. Tolonglah aku untuk melepaskan diri dari rasa ini.”
Hampir-hampir aku tidak memiliki seorangpun untuk berbagi rasa sendiriku, tak ada teman dan tak ada seorang lelaki istimewa yang kukasihi untuk dapat diajak bicara. Saat ini hidupku terasa sangat kering dan nyaris tak punya tempat tujuan. Setiap hari aku hanya berhadapan dengan setumpuk kertas-kertas kerja, tagihan-tagihan, dan ini kulewati selama setahun lebih beberapa bulan ini, dan aku mencoba untuk mempelajari bagaimana mengakhiri rasa sakit hati dimasa lalu, mengakhiri hubungan-hubungan lama, membicarakan semua kebutuhanku, memahami dan menghadapi apa yang dikehendaki semuanya. Tetapi aku masih saja sama seperti kemarin, tetap sendirian dan rasa itu semakin membungkus erat perasaanku.”
Sambil duduk diam, dan melakukan sedikit kegiatan kecil, aku membiarkan keheningan ini terus menerus melandaku walaupun sangat menyiksa. Aku tetap berusaha bertanya kepada Tuhan “Bapa, apa yang Engkau inginkan dariku? Apa yang harus kuperbuat? Kuatkanku melewati setiap perasaan yang sangat tak jelas ini. Aku mengandalkanMu kali ini. Bapa, Tolonglah aku.. “.
Berhari-hari, berbulan-bulan aku mengulangi kegiatan rutin ini. Aku terus menjalani kehidupanku sendiri, sedikit berhasil tertawa bersama teman-teman dan keluarga dan sedikit bersenang-senang. Aku menikmati diri sendiri, entah itu aku sedang kerja di kantor, makan diluar, shopping atau traveling. Aku juga tetap berdoa.
Hari demi hari, tanpa putus asa aku coba untuk terus berdoa kepada Tuhan, mengosongkan pikiran pada diriku, memohon kehadiranNya, merasakan jamahanNya, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali lagi dan lagi dan lagi dengan penuh harapan yang pasti.
Dan pada suatu pagi, saat aku terbangun dan mulai menyadari bahwa sesuatu telah berubah. Saat berangkat kerja, aku memandang sekeliling, sesuatu tentang cahaya matahari pagi yang terang, pohon-pohon rindang dan rerumputan dipinggir jalan, suara kicauan burung, bahkan tiupan anginpun terasa begitu berbeda. Aku tidak tahu persis apa itu, tapi aku merasakannya, bahwa sesuatu yang baru telah dimulai.
Tak seberapa lama kemudian kutumpahkan semua isi hatiku pada Tuhan. “Bapa, sungguh aku tidak begitu yakin apa yang telah terjadi sekarang ini, tetapi aku merasa berbeda. Sesuatu telah kembali di dalam hati, aku tak merasa kesepian lagi. diluar sana tak ada yang berubah sama sekali, satupun tak ada, tetapi semuanya terasa begitu berbeda bagiku. Aku sangat yakin ini semua berasal daripadaMu. Yakinkan aku Bapa, yakinkan aku tentang semua hal ini. Bukankah Engkau mengetahuinya?”.
’Dasar bodoh’ begitu pikirku ketika tiba-tiba aku diterpa ketololan pertanyaan tersebut, dan tertawa terbahak-bahak karena sangat bahagia dan sekali lagi timbul keheningan. Tetapi bahkan rasa hening kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan itu tidak lagi menyampaikan suatu perasaan kosong dan kesepian. Sebaliknya keheningan itu mendatangkan ketenangan dan kedamaian yang menakjubkan. Aku tahu pada saat itu bahwa aku telah menyadari diriku sendiri. Hatiku tak merasa tertekan lagi. Aku hanya bisa menundukkan kepala, memejamkan mata, menitikkan air mata bahagia, menarik nafas panjang, dan menghembuskannya kembali. “Terima Kasih Bapa,” bisikku.
Aku hampir tak bisa memikirkan apa yang telah Tuhan perbuat, tetapi aku merasakan kebahagiaan ini berasal dari Tuhan dan aku tak bisa membayangkan betapa dasyatnya tangan Tuhan campur tangan dalam hidupku. Aku tak melakukan apa pun yang baru atau yang berbeda, jadi aku tahu kebahagiaan ini bukan dariku. Siapa lagi kalau bukan dari Tuhan.
Aku tetap duduk dalam keheningan dan kesendirian. Merasa senang dan sangat bahagia. Kemudian aku bicara lagi pada Tuhan “Bapa, apapun yang terjadi padaku kali ini, aku menyerah kepada ketidaktahuan. Aku menyerah padaMu karena Engkaulah yang berkuasa dan sangat mengerti isi hati. Aku menyerah pada hidupku sebagai ungkapan kehendakMu dan bukan kehendakku dan aku berterima kasih kepadaMu atas semua perasaan bahagia ini, atas perubahan pada diriku dan sekitarku atau transformasi ini atau entah apakah ini. Apapun itu Bapa, aku mengasihiMu”
Dalam hari-hari berikutnya perasaan puasku tumbuh dan berkembang. Aku mulai memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Aku terus menikmati hidup daripada mencari “sebagian jiwaku yang hilang”. Lenyap sudah perasaan takut, dorongan keras untuk mencari “sosok sempurna” selama sisa hidupku.
Pergeseran dalam sudut pandangku itu meluas ke bidang-bidang lain pula. Daripada berjalan sempoyongan menempuh kehidupan, lebih baik aku bebaskan hati dan meluncur terbang. Kunikmati kesendirianku. Aku merasa senang sekali. Sepanjang aku mempertahankan hubungan dengan Tuhan, aku berkelimpahan kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, kepuasaan dan segalanya yang tak pernah ku peroleh sebelumnya.
Tak ada apapun yang perlu untuk berusaha diketahui. Andaikata kehendak Tuhan aku harus mengakhiri masa lajangku, maka aku akan menikah. Dan bila tidak, itu pun tidak apa-apa asalkan Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Aku tidak lagi menggenggam anggapan-anggapan yang telah kubayangkan bagaimana seharusnya hidupku. Setiap hari merupakan petualangan yang baru yang menakjubkan yang Tuhan berikan bagiku.
“Bapa, sekali lagi… Terima Kasih” bisikku. Aku sangat bersyukur karena sudah menolongku melepaskan semua beban yang kupikul, semua yang mencegahku untuk melihat apa yang betul-betul ada dihati. Terima kasih karena menunjukkan diriMu sendiri padaku dalam diriku sendiri, dalam hembusan angin, dalam langit sore yang indah, dalam matahari dan hujan dan dalam banyak hal. Aku tak mungkin seperti ini tanpaMU. Terima kasih karena Kau telah menemaniku terus. Sudah menjamah dan setia menemaniku dalam hari-hari sepiku. Aku berjanji aku tidak akan melupakanMu,”
Aku bersyukur kepada-Mu oleh
karena kejadianku dasyat dan ajaib ; ajaib apa yang Kau buat,
dan jiwaku benar-benar
menyadarinya
- Mazmur 139:14
(Artikel ini di ikut sertakan dalam Writing Competition CIBfest 2009)



