Archive for July, 2009

source by images.google
Lukas 16:19-31
Apakah memori itu? Hal apakah yang memampukan kita untuk dapat mengingat kembali perasaan, pandangan, suara dan pengalaman masa lalu? Dengan proses apakah peristiwa demi peristiwa yang telah direkam, disimpan dan diabadikan di dalam otak kita itu akan dimunculkan kembali berulang kali? Ini semua masih menjadi suatu misteri.
Kita tahu bahwa memori dapat menjadi berkat - penuh penghiburan, keyakinan dan sukacita. Usia senja dapat jadi menyenangkan dan memuaskan, jika kita telah menyimpan memori akan kekudusan, iman , persekutuan dan kasih. Jika seorang yang saleh mengenang kembali kehidupan pelayanan Kristen dan mengingat kesetiaan Allah yang berjanji : “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5), tahun-tahun dimasa senjanya dapat menjadi yang termanis dari semua yang pernah dijalaninya.
Namun, memori juga dapat menjadi suatu kutukan dan penyiksaan. Banyak orang, disaat-saat menjelang akhir hidup mereka, rela memberikan apa saja yang mereka miliki untuk menghapus dari ingatannya dosa-dosa dari masa lalu yang masih menghantui mereka.
Apa yang dapat dilakukan seseorang ketika dikuasai oleh ingatan-ingatan seperti itu? Hanya ada satu hal. Ia dapat menyerahkan segala ingatan itu pada satu Pribadi yang dapat mengampuni mereka dan menghapus semua memori itu. Dialah yang mengatakan, “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka” (Ibrani 10:17).
Mungkin anda tidak dapat melupakan masa lalu anda. Namun Tuhan menawarkan untuk menghapuskan “segala dosamu seperti awan yang tertiup” (Yesaya 44:22).
sumber : Santapan Rohani - RBC
(Efesus 4:1-16)
Suatu pergumulan yang terus-menerus kita alami disaat kita belajar mengikut Kristus adalah ketika kita mencoba untuk menemukan panggilan hidup kita. Kita sering berpikir bahwa panggilan itu berkaitan dengan pekerjaan dan lokasi kita. Namun, mungkin yang lebih penting dari itu adalah soal karakter, yaitu keberadaan diri yang mendasari perilaku. “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki bagiku?”
Dalam Efesus 4, Paulus menulis “Sebab itu aku menasehatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (ayat 1). Ia melanjutkan ini dengan tiga “hendaklah”, seperti tertulis dalam satu terjemahan: Hendaklah selalu rendah hati, hendaklah lemah lembut, hendaklah sabar, “tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (ayat 2). Paulus menulis ini dari penjara, suatu tempat yang sulit, namun ia terus setia pada panggilan Allah atas hidupnya.
Ada yang berkata “Pengabdian bukanlah menyerahkan panggilan hidup kita kepada Allah, tetapi pemisahan dari semua panggilan lainnya dan memberikan diri kita sepenuhnya pada Allah, mengizinkan kedaulatan Allah menempatkan kita sesuai kehendakNya — dalam segala hal tak terkecuali. Kita ditempatkan Allah di sana untuk bekerja sesuai hukum dan prinsip Kerajaan Allah.”
Bila kita adalah orang-orang yang tepat dimata Allah, kita dapat melakukan tugas apapun yang diberikanNya, dimanapun Dia menempatkan kita. Dengan itulah, kita menemukan dan meyakini panggilanNya bagi kita.
sumber : Santapan Rohani - RBC




